“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?"(QS. Al-Ankabut [29] ayat 2)
Di antara cara
Allah untuk membuktikan keimanan seseorang adalah dengan menghadirkan ujian
kepadanya. Ya, ujian adalah salah satu cara untuk mengukur kadar keimanan
seseorang.
Rangkaian ayat ke-2
dalam QS. Al-Ankabut di atas menegaskan hal tersebut. Setiap orang yang telah
mengikrarkan diri bahwa dia seorang mukmin, maka pasti dia akan diuji oleh
Allah Swt dengan beragam bentuk ujian untuk membuktikan keimanannya tersebut.
Ada orang yang
diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji dengan sakit yang tak kunjung
sembuh. Ada yang diuji dengan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya.
Ada yang diuji dengan sulitnya mendapatkan jodoh. Dan ada pula yang diuji
dengan tidak memiliki keturunan.
Beraneka ragam
bentuk ujian yang Allah hadirkan kepada setiap manusia yang mengatakan dirinya
beriman kepada Allah tersebut, merupakan cara untuk mengukur seberapa besar
dan seberapa tinggi tingkat keimanannya.
Menyikapi beragam
ujian tersebut, ada orang yang tetap teguh pada keimanannya. Alih-alih
mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, menyesali kondisi yang tengah
dialaminya, dia justru menjadi seorang mukmin yang semakin kuat dan tangguh
keimanannya. Dia yakin sepenuh hati bahwa beragam ujian yang Allah hadirkan
mengandung hikmah serta pelajaran berharga dalam hidupnya.
Kesulitan ekonomi
yang dialaminya, justru menjadikannya semakin rajin dan giat berusaha dengan
terus berdoa kepada Allah untuk diberikan kelapangan rezeki. Kehilangan
orang-orang yang dicintainya justru menyadarkannya bahwa kehidupan di dunia
ini hanyalah sementara. Karena setiap manusia pasti akan meninggalkan dunia
fana ini. Sakit yang dideritanya, semakin menambah keimanannya. Karena dia
juga yakin bahwa dengan sakitnya itu Allah mengajarkan betapa manusia tidak
punya daya dan kekuatan apa pun selain kekuatan yang Allah berikan kepadanya.
Kesulitan dalam mendapatkan pasangan hidup, menjadikan seorang mukmin sadar
bahwa Allahlah yang menentukan segalanya. Dan ketidakhadiran buah hati yang
dinanti selama ini menjadikannya semakin kuat beribadah kepada Allah dan
menyerahkan semua urusannya kepada-Nya. Dia menyadari bahwa tidak mudah
menjaga amanat. Dia berbaik sangka kepada Allah dengan meyakini setulus hati
bahwa pasti ada rencana terbaik yang telah Allah siapkan untuknya.
Di sisi lain, ada
orang yang menyikapi segala ujian dan cobaan yang menimpanya dengan mengeluh,
meratapi keadaan, mengutuk nasib, bahkan tidak jarang mempertanyakan keadilan
Allah. Dia tidak sabar dengan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sedih
berkepanjangan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya, terus berkeluh
kesah dengan sakit yang dideritanya, menyesali sulitnya mendapatkan jodoh,
serta menggugat keadilan Allah karena tidak hadirnya keturunan. Dia berburuk
sangka kepada Allah. Dia hanya fokus melihat sesuatu yang tidak dimilikinya,
tidak memperhatikan apa yang telah dimilikinya.
Padahal, kalau dia
mau berpikir jernih, nikmat yang telah Allah berikan kepadanya jauh lebih
besar daripada ‘kekurangan’ yang ada padanya. Seandainya dia menghitung nikmat
Allah yang sangat besar itu, pasti dia tidak akan bisa menghitungnya. Kalaulah
dia mau terus menerus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya,
maka pasti Allah akan menambah nikmat-Nya kepadanya.
Inilah dua kondisi
berbeda dalam menyikapi ujian dan cobaan hidup, yang biasa kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Dua kondisi tersebut mencerminkan tingkat keimanan
seseorang.
Sekali lagi perlu
ditegaskan, engkau beriman, maka engkau diuji.
Ruang Inspirasi,
Sabtu (11/7/2020)
By Didi Junaedi

0 Komentar