Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki pengalaman, baik itu pengalaman baik maupun pengalaman buruk. Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat hidup di dunia ini menjadi suatu goresan yang berarti. Bahkan, kata kebanyakan orang pengalaman merupakan guru terbaik. Jika pendapat tersebut benar berarti pengalaman lah yang paling pandai mengajari manusia berbagai hal. Apakah benar seperti itu? Ya, tentu saja benar. Tetapi, apakah kita yang harus mencari dan mengejar terus menerus suatu pengalaman? Ini sepertinya kurang benar karena pengalaman bukanlah target yang dituju oleh semua orang. Namun, pengalaman adalah hal kedua yang terletak di belakang sebuah hal yang lebih penting di depannya. Jadi bukan pengalaman yang menjadi segala-galanya. Harusnya pengalaman itu datang dan bukan dicari-cari.
Dan saatnya sekarang saya menceritakan pengalaman saya selama beragama islam sejak kecil. Hampir semua orang tua pasti ingin anaknya kelak menjadi anak yang shaleh/shalehah dan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memasukkan anaknya sejak kecil ke Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Itulah cara yang dilakukan oleh orang tua saya, sehingga di samping saya belajar ilmu-ilmu dunia di sekolah dasar sembari saya juga belajar ilmu tajwid dan iqro di TPA. Dan hasilnya sebelum lulus SD saya sudah bisa membaca Al Quran bahkan sudah pernah khatam sekali.
Dan juga selama mengaji di TPA saya diajar oleh pak ustadz yang bernama “Pak Hadi”. Dialah yang mengajarkan saya tentang nilai-nilai Islam selama di TPA. Metode mengajar dia pun sangat sederhana setiap hari pertemuan dia memberikan beberapa ayat-ayat suci pilihan dari Al Quran dan menyuruh kita santri-santrinya berusaha untuk menghapal ayat dan artinya tersebut. Sembari santrinya menghapal ayat-ayat suci, Pak Hadi pun memberikan beberapa ceramah terkait ayat yang sedang diberikan pada hari itu Seperti contoh ayat pilihannya adalah QS. Al Fath ayat 29 yang di dalamnya terdapat ciri-ciri dan kisah para pengikut setia Nabi Muhammad SAW.
Dan saya mengaji 5x selama seminggu sehingga dalam seminggu tersebut saya seharusnya sudah menghafal 5 buah ayat-ayat pilihan. Biasanya setiap hari terakhir tiap pekan yaitu hari jumat Pak Hadi menanyakan pertanyaan yang harus dijawab oleh santrinya secara bergiliran. Pertanyaannya ialah “Sebutkan firman-firman Allah SWT yang sudah bersemayam di dalam hatimu?”. Ini merupakan pertanyaan yang mudah sekali dijawab oleh para santri jika santri tersebut selalu berusaha untuk menghafal kemudian juga mengulang-ulang kembali hafalannya di rumah karena jika hafalan Al Quran tidak diulang kembali maka hafalan yang dihafal akan cepat hilang dari otak kita. Dan ketika tiba giliran saya untuk menjawab pertanyaan tersebut Alhamdulillah saya selalu bisa mereview hafalan ayat-ayat Al Quran yang dihafalkan selama seminggu.
Selama saya mengaji di TPA saya sudah menganggap Pak Hadi seperti bapak saya sendiri di sana. Dan ketika saya kelas 3 SMP terjadilah kejadian yang menyedihkan bapak saya meninggal dunia akibat terkena serangan jantung. Waktu itu saya sangat terpukul dengan kejadian tersebut sehingga membuat saya tidak semangat belajar dan ikut try out padahal UN tinggal 2 bulan lagi. Tapi ustadz saya Pak Hadi selalu mensupport saya untuk bangkit dari kesedihan. Pak Hadi selalu memberikan kata-kata yang membuat saya tidak perlu berkecil hati karena sudah tidak mempunyai ayah dan bahkan Rasulullah SAW sudah tidak mempunyai ayah dan ibu ketika lahir tetapi beliau tidak bersedih dan meratapi nasibnya. Jadi tidak ada alasan untuk terpuruk lagi dan sekarang waktunya belajar agar diterima di SMA unggulan.
Dan Alhamdulillah berkat usaha, doa dan karunia Allah saya berhasil masuk SMA Negeri di daerah Kebon Baru, Tebet. Dan sampai menginjak SMA kelas 1 pun saya masih tetap datang ke pengajian TPA. Saya pun tidak malu jika harus bergabung dengan anak-anak kecil di sana untuk mengaji. Kemudian terjadilah kembali apa yang tidak diinginkan, Pak Hadi jatuh sakit karena terkena stroke sehingga dia tidak bisa mengajar lagi di TPA dan harus pulang ke daerah asalnya yaitu Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Sebelum dia pergi pun, Pak Hadi berwasiat kepada saya untuk tetap terus mengaji walaupun bukan di TPA lagi tetaplah mengaji dan belajar Al Quran dimana saja. Saya pun mengiyakan wasiatnya dan dia pun akhirnya memilih tinggal di kampungnya sembari menjalani pengobatan herbal karena lebih murah.
Dan sekarang saya akan menceritakan pengalaman di SMAN 37 Jakarta. Di sana saya ikut eskul Rohani Islam (Rohis) agar bisa ikut terjun ke ranah dakwah di sekolah tersebut. Dan di Rohis kita mendapatkan bimbingan yang biasa disebut mentoring/liqo. Saya pun sebenarnya bingung apa yang dimaksud mentoring dan akhirnya kakak Rohis menjelaskan kalau mentoring adalah perkumpulan orang yang membuat lingkaran kecil dan terdapat satu mentor di dalamnya dan si mentor itu memberikan ceramah atau pun sekedar pengalaman-pengalamannya untuk diceritakan ke orang-orang di lingkaran tersebut. Jadi seperti itulah yang dinamakan mentoring dan saya mengikuti kegiatan mentoring setiap minggu sekali.
Kemudian ketika kelas 2 SMA berita musibah pun datang bahwa Pak Hadi sudah meninggal dunia. Saya pun bersedih karena tidak bisa melayat ke daerahnya karena di sekolah sedang ada ujian sehingga saya pun hanya bisa mendoakan kebaikan kepada beliau dan agar dimudahkan hisabnya dan jalannya ke Surga. Kurang lebih cuman berkisar 2 tahun belakangan ini sudah ada dua orang yang berharga di dalam kehidupan saya yang dipanggil oleh Allah. Dan sekarang saya tinggal bersama adik dan ibu, saya sangat menyayangi mereka berdua apalagi saya sebagai anak sulung laki-laki yang seharusnya jadi kepala di keluarga kecil saya tersebut. Dan di dunia ini saya bertekad untuk berjuang meraih cita-cita saya dan juga keluarga saya.
Dan pada waktu itu saya menjadi senang sekali membaca tokoh-tokoh pejuang karena saya ingin mencontoh semangat yang mereka miliki ketika berhadapan dengan suatu masalah. Saya pun membaca cerita motivasi tentang tokoh presiden pertama kita ialah Ir. Soekarno kutipannya seperti ini “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, karena jika engkau jatuh, maka engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”.
Saya pun memikirkan sebenarnya kenapa kita harus menggantung cita-cita setinggi langit tersebut. Pusing dengan semua pemikiran tersebut saya pun bertanya dengan pak ustadz yang ada di masjid dekat TPA dulu. Saya meminta jawaban dari beliau karena saya rasa pak ustadz memiliki ilmu yang cukup untuk menjawab pertanyaan yang selama ini menggangu saya. Dan pak ustadz pun menyadarkan dan membuka pikiran saya. Makna menggantung cita-cita setinggi langit, maksudnya adalah agar semua orang mencita-citakan apa yang ada di balik langit tersebut. Dan kita pun mengetahui bahwa Surga menurut yang diberitakan oleh agama ada di langit tersebut. Intinya adalah agar setiap orang itu mencita-citakan langit yaitu surga yang kekal bukan cuman sebatas mencita-citakan dunia yang bisa fana dilekang waktu ini.
Kemudian setelah dijelaskan seperti itu, saya pun kembali semangat dengan cita-cita saya yang baru. Cita-cita untuk mengejar negeri akhirat surga sebagai tempat tinggal. Dan mencita-citakan surga bukan berarti melupakan hidupnya di dunia. Sebaliknya, di dalam Hadits Nabi Muhammad SAW berkata yang intinya “ Jika engkau mengejar akhirat, niscaya dunia dan akhirat akan engkau dapatkan”. Lebih jauh lagi orang yang mempunyai tujuan hidupnya surga. Dia akan menjadi orang yang rajin berbuat baik dan menolong orang lain karena dia menganggap bahwa dunia ini sebagai ladangnya berbuat baik di akhirat. Dan orang seperti ini akan takut berbuat kejahatan karena dia percaya Allah SWT tidak tidur dan selalu mengawasi makhluknya.
Oleh karena itu, semoga saya tetap istiqomah dalam mengejar cita-cita surga tersebut. Terus berusaha untuk memperbaiki diri dan juga saling mengingatkan dalam kebenaran juga keadilan. Saya juga ingin selalu membuat orang lain bangga terutama ibu saya dan ketika lulus nanti, semoga ilmu-ilmu yang saya pelajari saat kuliah juga bisa dirasakan untuk orang lain. Karena saya mendengar dari guru saya bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

0 Komentar